Kombinasi Obat Antihipertensi Baru Turunkan Risiko Stroke

Kombinasi baru obat antihipertensi terbukti efektif memberikan perlindungan kardiovaskular menyeluruh pada penderita hipertensi yang belum terkontrol, terutama dari stroke.

Hasil penelitian Prof Hiroaki Matsubara dari Kyoto Perfectural University of Medicine terhadap 3.042 pasien hipertensi di Jepang menunjukkan, penambahan valsartan pada terapi dengan obat dari golongan lain (amlodipine) dapat menurunkan kejadian gangguan kardiovaskular hingga 46 persen.

Menurut hasil penelitian itu, kombinasi valsartan–obat antihipertensi golongan penghambat reseptor angiotensin atau Angiotensin Receptor Blocker/ARB dengan amlodipine yang termasuk obat antihipertensi golongan Calcium Channel Blocker/CCB dapat menurunkan risiko stroke hingga 45 persen dan angina (dada sesak) hingga 49 persen.

“Dan pengaruhnya pada penderita hipertensi dengan tekanan darah lebih dari atau sama dengan 140/90 mmHg terlihat dalam waktu relatif cepat, hanya enam bulan,” kata Santoso Karo Karo Surbakti, kardiologis dari Pusat Jantung Nasional Harapan Kita di Jakarta, Jumat, tentang temuan baru yang pertama kali disampaikan dalam Kongres Perhimpunan Kardiologis Eropa di Barcelona pada 1 September 2009.

Ia mengatakan, sebelum ada penelitian khusus tentang pengaruh penggunaan kombinasi obat antihipertensi tersebut di negara Asia lain yang menunjukkan hasil berbeda, kombinasi obat tersebut dianggap dapat memberikan perlindungan yang sama pada pasien Asia yang memiliki predisposisi genetik dan gaya hidup serupa dengan orang Jepang.

“Sebab hipertensi tidak pernah habis dibahas, ilmunya berkembang dinamis,” katanya.

Ia menjelaskan pula bahwa hingga saat ini terdapat tujuh golongan obat antihipertensi termasuk di antaranya Beta Blocker (BB), Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitor (ACEI), ARB, dan CCB.

Dalam perkembangannya, kata dia, tidak semua kasus hipertensi bisa ditangani dengan satu jenis terapi obat, dan karena itu dilakukan kombinasi obat untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

“Kombinasi biasanya dilakukan supaya tekanan darah bisa lebih dikontrol, efek samping lebih rendah dan harganya lebih murah,” katanya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, saat ini telah terjadi pergeseran pola penyakit dimana beban penyakit tidak lagi didominasi oleh penyakit menular, tapi juga penyakit tidak menular akibat perubahan gaya hidup seperti hipertensi.

Angka kejadian hipertensi di dunia cukup tinggi, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 10 persen dari seluruh populasi dunia.

Di Indonesia, menurut hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga Tahun 2004, angka kejadian hipertensi pada penduduk usia 35 tahun ke atas sebanyak 15,6 persen.

Sementara menurut hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007, angka kejadian hipertensi pada penduduk usia di atas 18 tahun sebanyak 29,8 persen.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s