Penyakit Jantung Bawaan: Dari Pisau ke Jarum

BANYAK kasus penyakit jantung bawaan memerlukan koreksi dengan tindakan bedah yang selama ini merupakan tata laksana baku. Selama ini teknik bedah yang digunakan telah berkembang dengan keberhasilan operasi cukup memuaskan. Sejalan kemajuan yang dicapai dalam intervensi bedah, pada saat bersamaan intervensi non bedah seperti kateterisasi jantung juga mulai berkembang.

PJB adalah penyakit dengan kelainan pada struktur atau fungsi sirkulasi jantung yang telah ada saat lahir. Kelainan ini terjadi akibat ada gangguan perkembangan struktur jantung pada fase awal pertumbuhan janin. Sekitar sepertiga hingga separuh dari seluruh kasus PJB perlu tindakan bedah atau intervensi, kata Guru Besar Bidang Kardiovaskuler Anak FKUI Prof Ganesja M Harimurti, Senin (18/2), di auditorium Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta.

Dari diagnostik, pemanfaatan teknik kateterisasi ini berkembang jadi teknik intervensi non bedah pada PJB. Teknik dan alat yang digunakan mengalami perbaikan seiring kemajuan teknologi. Perkembangan tata laksana PJB menggambarkan progresivitas atau pergeseran secara revolusioner. Banyak prosedur yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan transkateter, ternyata dapat dilakukan dan jadi pilihan menggantikan berbagai prosedur bedah pada tata laksana PJB.

Beberapa intervensi transkateter pada PJB yang telah dapat dilakukan antara lain prosedur dilatasi atau pelebaran pada katup-kantup jantung yang menyempit, pembuluh darah yang menyempit atau tersumbat, dan sekat antar serambi jantung yang perlu dilebarkan pada kasus khusus. Prosedur oklusi atau penutupan dilakukan pada lubang antara sekat serambi atau bilik jantung, saluran duktus arteriosus, serta penutupan pembuluh darah tidak normal.

Revolusi teknologi terbaru dari pisau ke jarum adalah berkembangnya teknologi katup buatan sehingga penggantian katup jantung seperti katup pulmonal dan aorta, serta reparasi katup mitral telah dapat dilakukan transkateter, ujarnya. Intervensi transkateter juga telah dilakukan pada terapi resinkronisasi jantung (CRT), tindakan ablasi pada gangguan irama jantung, serta pemasangan pacu jantung permanen.

Di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, pada periode 1998 hingga 2007 telah dilakukan 4.666 operasi dan jumlahnya meningkat dari tahun ke tahun, mencapai 766 operasi pada tahun 2007. Tahun 1996 merupakan awal dilakukannya intervensi transkateter pertama di Indonesia pada 2002, intervensi transkateter penutupan defek bawaan mengalami peningkatan sangat bermakna.

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s