Cakar setan berjasa mengobati beragam penyakit manusia.

Pernah membayangkan bentuk cakar setan? Ternyata mirip tanduk rusa berujung runcing. Ia kerap melukai hewan yang melintas di dekatnya. Itu bukan cakar setan yang makhluk terbuat dari api, tetapi sebuah tanaman obat bernama ilmiah Harpagophytum procumbens. Di pasaran internasional tanaman itu memang disebut devil’s claw alias cakar setan.

Penduduk Namibia memanfaatkan cakar setan untuk mengatasi beragam penyakit seperti demam, mengurangi rasa sakit, lever, ginjal, dan melancarkan pencernaan. Kini warga setempat membudidayakan cakar setan bukan demi keperluan sendiri, tetapi untuk memenuhi permintaan Bioforce AG, produsen obat herba di Kota Roggwil, Swiss, yang Trubus kunjungi pada musim panas beberapa tahun lalu.

Bioforce ingin menanam sendiri, tetapi di negeri 4 musim tanaman anggota famili Pedaliaceae itu tak mampu tumbuh. Oleh karena itu Bioforce bermitra dengan masyarakat Namibia. Pada musim kemarau, pekebun cakar setan memanen umbi dan mengirimkan ke pabrik yang didirikan oleh Alfred Vogel itu. Perusahaan itu mengekstrak dan mengolah cakar setan sebelum memasarkan ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Uji klinis

Bukti empiris menunjukkan cakar setan mujarab mengatasi rasa sakit. Itu seiring dengan uji klinis oleh T Wegener, peneliti Consulting Herbal Medicinal Products, Jerman, yang melibatkan 192 pasien sakit pinggang kronis. Wegener memberikan 3 tablet setara 400 mg ekstrak umbi. Setelah 4 pekan, khasiat cakar setan diukur dengan indeks penurunan rasa sakit. Hasilnya, 182 pasien di antaranya merasakan sakit di bagian pinggang mereda.

Dalam riset lain, Wegener membuktikan khasiat cakar setan setara Diacerhein, obat sintesis berfungsi meredakan rasa sakit yang biasa diberikan untuk pasien osteoartritis. Uji klinis melibatkan 122 pasien osteoartritis yang menderita sakit di bagian lutut dan siku. Sukarelawan dibagi 2 kelompok yang masing-masing diberi 2,16 g ekstrak cakar setan dan 100 mg Diacerhein per hari.

Empat bulan berselang, kadar rasa sakit para pasien diukur dengan liquesne functional index. Rasa sakit pasien yang mengkonsumsi ekstrak cakar setan menurun 50%; Diacerhein 58%. Keampuhan ekstrak wood spider – julukan lain devil’s claw – itulah yang mendorong Vogel memproduksi obat berbahan tanaman gurun itu.

Selain cakar setan, perusahaan berumur 26 tahun itu juga mengolah Arnica montana. Tanaman anggota famili Asteraceae itu dibudidayakan di kaki Gunung Alpen. Bioforce mengolah arnica menjadi gel dan minyak. Mountain arnica – sebutan lainnya – sejatinya dikenal di Eropa sebagai tanaman obat sejak berabad-abad silam sehingga banyak diburu para pengobat tradisional.

Akibatnya, arnica terancam punah sehingga beberapa negara di Eropa menetapkannya sebagai tanaman yang dilindungi. Oleh karena itu Alfred Vogel membudidayakan Arnica montana di Jerman yang menyerupai habitat aslinya setelah melalui ujicoba bertahun-tahun. Arnica dipanen setahun sekali yakni pada Mei – Agustus. Bioforce mengekstrak tanaman segar dengan alkohol lalu mengolah menjadi jeli.

Kepada Trubus, Andy Suter MSc, anggota tim ahli kesehatan Bioforce, mengatakan, “Keampuhan Arnica montana teruji secara klinis.” Ia meneliti 79 pasien osteoartritis lutut yang diberi 50 g ekstrak Arnica montana dalam bentuk jeli. Jeli dioleskan pada bagian yang sakit. Setelah 3 dan 6 pekan, kondisi pasien diukur menggunakan Western Ontario and McMaster Universities Osteoarthritis Index (WOMAC).

Rasa sakit dan kaku pada lutut pasien menurun secara signifikan. Pantas bila 69 pasien menyatakan puas dengan pengobatan jeli arnica yang mengandung helenalin. Senyawa itu menyebabkan keracunan jika seseorang mengkonsumsi dalam jumlah banyak. Dalam dunia medis, senyawa itu berkhasiat mengatasi gastroenteritis atau peradangan saluran pencernaan akibat infeksi bakteri atau virus sehingga menyebabkan diare akut.

Bersentuhan dengan kerabat tagetes itu juga memicu iritasi kulit. Akar arnica kaya senyawa timol yang berkhasiat antiperadangan. Produk turunan timol berfaedah sebagai vaskodilator alias memperlebar pembuluh darah.

Penenang

Pada kunjungan Trubus di musim panas itu Kota Roggwil semarak oleh hamparan bunga kuning yang menyelimuti kaki bukit. Itulah bunga st. john wort’s yang dibudidayakan Bioforce, perusahaan herbal terbesar di Swiss yang mendapat julukan helvetika. Nama ilmiahnya Hypericum perforatum pinjaman dari bahasa Yunani: hiper berarti atas dan eikon bermakna lukisan. Ukuran daun lebih kecil ketimbang bunga.

Oleh sebab itulah ketika berbunga pada musim panas, hamparan tanaman yang semula hijau nyaris seluruhnya berganti kuning. Persis lukisan! Masyarakat menggantung st john wort saat perayaan hari St John. Namun, Bioforce membudidayakan Hypericum perforatum bukan untuk menyemarakkan perayaan atau menghias taman, melainkan sebagai tanaman obat.

Di balik bunga mungil ternyata menyimpan faedah besar. Bunga itu mengandung senyawa hiperisin dan hiperforin. “Kedua senyawa itu mempengaruhi neurotransmiter pada otak,” ujar dr Jen Tan, direktur Bioforce cabang Inggris. Hypericum juga mengandung senyawa flavonoid yang berefek analgesik atau mengurangi rasa sakit.

Pantas bila st john wort mampu meredakan rasa sakit akibat gangguan saraf. Oleh karena itu tanaman anggota famili Hyperaceae itu kerap digunakan untuk membantu mengatasi depresi dan penyakit saraf lainnya. Menurut catatan Drs Mono Rahardjo MS , peneliti Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, st john’s wort sangat populer di Amerika Serikat. Bioforce mengolah hypericum dalam bentuk tingtur alias cair dan tablet.

Hypericum bukan satu-satunya penghuni lahan 8 ha milik A. Vogel. Tanaman obat lain yang dibudidayakan adalah Cynara scolymus. Globe artichoke – sebutan lainnya – kerap dijumpai di kawasan Mediterania. Trubus menyaksikan artichoke di Wonosobo, Jawa Tengah, yang dibudidayakan Jack Craig, ekspatriat asal Amerika Serikat. Petal tebal bertumpuk mengikuti pola tertentu seukuran kepalan tangan.

Di Eropa, artichoke tergolong makanan mewah. Bagi yang ingin mencicipi menu berbahan artichoke mesti merogoh kocek dalam-dalam. Itu sepadan dengan faedahnya bagi kesehatan: melindungi dan meningkatkan fungsi hati. Senyawa yang berperan melindungi hati adalah cynaropicrin dan cynarin. Sedangkan asam fenolat menurunkan kadar kolesterol dalam darah dan lemak. (Imam Wiguna)

Keterangan foto

Cynara scolymus, obat penurun kolesterol
Arnica montana , pereda sakit dari Pegunungan Alpen Horse chestnut , obat pelentur pembuluh darah
Echinacea, pendongkrak sistem kekebalan tubuh
Bunga kering devil’s claw, yang umbinya digunakan untuk mengobati rematik
Hypericum perforatum, obat antidepresi

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s