Air Tebu – aman bagi penderita diabetes.

Mengapa gula berbahaya? Apa lagi racun di sekitar kita?

Salah satu kesenangan saya saat ini adalah keluyuran di blogosphere Indonesia, terutama ke berbagai blog yang ditulis oleh para pakar / spesialis di bidangnya masing-masing. Luar biasa banyak pencerahan yang sudah saya dapatkan dalam hitungan menit saja. Salah satu yang rutin saya kunjungi adalah blog Dr. Anthy. Beliau berada di Surabaya, namun berkat Internet & layanan blog, maka beliau bisa berbagi wawasannya dengan kita semua.

Salah satu postingnya yang paling menarik adalah informasi bahwa air tebu itu aman bagi penderita diabetes. Lho, bukannya gula putih itu berasal dari tebu juga, tapi kenapa yang satu aman sedangkan yang hasil diproses justru berbahaya?
Ini sangat menarik, karena di keluarga saya banyak yang mengidap diabetes.

Ternyata proses pengolahan dari tebu menjadi gula yang bertanggung jawab atas hal ini. Pada proses tersebut, zat bernama sakaran lenyap dari air tebu yang diproses menjadi gula. Karena itu gula kemudian menjadi tidak aman bagi para penderita diabetes.

Lho kalau begitu berarti penderita diabetes tidak perlu mengkonsumsi pemanis buatan dong? Mereka tetap bisa menikmati pemanis alami, asalkan tidak diproses dengan cara yang dekstruktif begitu.
Menarik sekali.

Saya kemudian menjadikan topik ini sebagai bahan pembicaraan di berbagai kesempatan. Ternyata kemudian saya mendapatkan berbagai informasi lainnya yang menarik :

[ 1 ] Gula yang sudah diproses dari tebu aslinya tidak berwarna putih, namun cenderung kusam / kecoklatan. Warna putih didapatkan dari proses pemutihan dengan menggunakan zat kimia 😦

[ 2 ] Beras yang biasa kita beli sudah diproses secara kimia, sehingga warnanya bagus dan tidak diserbu oleh kutu.

[ 3 ] Produk peternakan (susu, telur, ayam, sapi, dll) ada yang telah tercemar hormon & antibiotik

[ 4 ] Sayuran & buah tercemar pestisida (dan cairan pencuci buah/sayur terbukti tidak efektif)

[ 5 ] Dan berbagai potensi masalah lainnya.

Waduh, jadi pusing saya :

Kalau poin 1 mungkin masih agak mendingan, walaupun saya tidak bisa mendapatkan gula tebu asli, sekarang Helen selalu membeli gula coklat / bukan yang putih. Walaupun sakarannya sudah hilang, paling tidak keluarga kami tidak menelan zat pemutih.
Dan tentu idealnya kami bisa segera menemukan suplier gula tebu asli.

Untuk poin 2, bingung saya 😦
Lha semua beras di pasaran sudah diproses seperti itu. Sejauh ini saya belum menemukan yang tidak diproses, karena memang beras yang tidak diproses akan diserang kutu.

Saya jadi bertanya ke ayah saya, gimana caranya orang zaman dulu menyimpan berasnya di lumbung?
Ternyata disimpan dalam bentuk padi, bukan beras. Maka selain jadi anti kutu, juga jadi bisa disimpan selama berbulan-bulan tanpa masalah.

Zaman sekarang mungkin repot kalau harus menumbuk padi saban menanak nasi, tapi mungkin ini peluang bisnis bagi enterpreneur yang bisa menemukan alat pemroses padi menjadi beras.
Kalau ini sudah ada, maka keluarga saya bisa beralih ke padi saja.

Untuk poin 3, saya juga bingung lagi 😦
Bagaimana caranya membedakan ternak yang organik dengan yang sudah tercemar zat-zat kimia seperti hormon pertumbuhan & antibiotik ? Ini cukup berbahaya, misalnya zat antibiotik yang terus masuk ke tubuh dalam dosis rendah akan membantu kuman di tubuh kita untuk menjadi kebal terhadap antibiotik tersebut.

Kalau di luar negeri sudah agak enak, karena ada skema labeling yang mempermudah kita untuk menemukan makanan yang organik. Baik sekali kalau di Indonesia juga bisa ada skema seperti ini.

Anyway, susah sekali untuk memberi makanan yang sehat bagi anak-anak kita saat ini. Kita suruh mereka banyak makan buah & sayur, tapi ternyata ada pestisidanya. Dan masalah lainnya yang sudah saya cantumkan diatas.
Ide? Solusi?

Juga kalau ada yang bisa membantu konfirmasi berbagai informasi di atas, kami akan berterimakasih sekali.

Jadi, bagaimana caranya supaya kita bisa makan sehat di Indonesia ? Please share any info that you have. Thanks.

Air Tebu – aman bagi penderita diabetes. Mengapa gula berbahaya? Apa lagi racun di sekitar kita?”

Tips Jadi Vegetarian Sehat

Buat banyak orang, menjadi vegetarian lebih dari sekedar pilihan, namun itu adalah jalan untuk hidup. Orang yang menyerah memakan daging biasanya jadi vegetarian untuk alasan religi, kepantasan dan kesehatan bahkan tren.

Anda ingin mulai jadi vegetarian, simak beberapa tips berikut. Jangan takut untuk mencoba, untuk kesehatan semua pasti ada jalannya.

1. Makanlah beberapa jenis makanan yang berfariasi. Termasuk polong-polongan, buah-buahan, sayuran dan serat untuk diet Anda. Ini adalah cara terbaik untuk memastikan Anda memperoleh segala nutrisi yang diperlukan.

2. Tambahkan produk kacang kedelai di menu Anda, kecuali Anda alergi terhadap kedelai. Kedelai adalah sumber yang bagus untuk protein. Ditambah lagi kedelai punya kelebihan lain bagi kesehatan dan bisa membantu Anda terlindung dari kanker.

3. Makanlah makanan segar sebisa mungkin. Minimal ini membantu proses kelengkapan asupan nutrisi pada tubuh.

4. Carilah makanan organik. Jika Anda berkomitmen untuk jadi seorang vegetarian atau vegan, sebaiknya Anda mengkonsumsi makanan-makanan terbaik. Anda bisa memulai menanam bahan makanan Anda di halaman rumah. Makanan organik ini biasanya tumbuh tanpa pestisida atau zat kimia untuk kesuburanm jadi jangan khawatir dengan racun. Mungkin lalapan juga bisa jadi pelengkap menu Anda.

5. Jika Anda mulai bingung dengan menu makanan. Sebaiknya belilah buku masak vegetarian. Selain rasanya lebih pas dengan selera Anda, Anda juga bisa yakin benar tak ada kandungan daging didalamnya dibanding Anda membeli masakan jadi di luar.

6. Cobalah berkreasi dengan bahan-bahan makanan Anda. Anda juga bisa mencoba masakan etnik seperti masakan a la India, Cina, Thailand, Italia dan Meksiko. Masakan di negara-negara tersebut biasanya tak berdaging. Atau Anda juga bisa mengunjungi restoran vegetarian di kota Anda.

7. Pertimbangkan apa alasan Anda menjadi seorang vegetarian. Jika Anda sudah yakin, maka bersungguh-sungguhlah. Bergabunglah dengan grup vegetarian di situs dan Anda bisa tahu banyak tentang kehidupan seorang vegetarian.

Ada orang yang bisa dengan mudahnya menyesuaikan diri menjadi vegan. Namun ada juga yang tidak bisa begitu saja menjadi seorang vegetarian. Sebenarnya hal tersebut terjadi karena kurangnya asupan nutrisi yang ia dapat sebab ia tak tahu kandungan gizi dari makanan yang harus dikonsumsinya.

Jangan salah langkah. Anda juga bisa mengunjungi ahli gizi untuk berkonsultasi mengenai masalah tersebut.(yla/yla)

Gula yang sudah diproses dari tebu aslinya tidak berwarna putih, namun cenderung kusam / kecoklatan. Warna putih didapatkan dari proses pemutihan dengan menggunakan zat kimia

Kalo ga salah malah gula yang berwarna putih itu selalu laku dipasaran :-s

prinsipnya, orang kencing manis harus makan sedikit kalori, nah makanan yang manis banyak mengandung kalori kecuali pemanisnya berasal dari pemanis buatan contohnya sakarin yang mengandung sedikit sekali kalori. Jadi, saya pikir(belum lihat komposisinya) air tebu juga tinggi kalori karena gula pasir berasal dari tebu.
*
untuk point no 2. selain alat yang praktis yang bisa memecah butir padi jadi beras (bayangan saya praktisnya harus sepraktis mesin pembuat kopi), sepertinya dibutuhkan padi khusus juga.

padi yang disimpan lama, biasanya yang masih terikat ke gagangnya. jarang melihat padi disimpan lama dalam bentuk butiran (yang sudah lepas dari gagangnya). entah, mungkin saya yang kuper.

tapi kalau memang benar yang saya tulis diatas, padi-padi yang ditanam sekarang (misal model IR). kemungkinan tidak bisa disimpan dengan cara ini. karena padi ini lebih mudah copot dari gagangnya. cara menuai padinya jg beda kan, pake sabit trus digebuk. karena memang butirannya mudah lepas.

apakah cara menyimpan dalam bentuk butiran padi atau dalam bentuk ikatan (dirangkeuy mun ceuk orang sunda mah), mana yang lebih baik saya kurang tahu. bukan petani sih. tapi dulu kakek/nenek sih petani 😀

Saya secara teratur minum tebu dan mengurangi gula.

Akhir akhir ini, saya suka minum es sari tebu di pinggir jalan. Habis enak siy 🙂

Oya, kalau Habbatus Sauda itu gmn ya? Menurut hadits kan menjadi obat segala macam penyakit, kecuali maut. Sekarang saya juga mengkonsumsi kapsulnya sih walau tidak rutin. Itu dari segi kesehatan atau ilmiah apa sudah diteliti ya?

soal warna putihnya gula, gue tahu hal ini dari baca intisari jaman SMP/SMA dulu. makin putih gula, makin banyak kandungan karbonnya, makin berkurang kadar manisnya. jadi memang dari dulu gue udah menghindari pakai gula yang warna putih, lebih karena rasio rasa manis per duit yang gue keluarkan jauh lebih besar ketimbang beli gula yang warnanya putih bersih.
*
Dulu, orangtua punya tegalan disamping rumah yang ditanami sayuran seperti kacang panjang, tomat, bayam dsb nya. Kelapa, mangga, belimbing, jeruk juga ada di pekarangan…jadi tinggal beli beras, yang bagus adalah beras yang dari ladang (tetangga saat itu masih panen padi dan ditaruh di lumbung), ditumbuk pakai lesung.

Jadi sebetulnya bahan bakunya juga harus sehat, tak disemprot pestisida….Kalau tebu dulu nggak beli, karena di dekat rumah adalah ladang tebu, maklum kota saya dikelilingi pabrik gula…..asal dimakan di ladang, tak dilarang oleh mandornya. Dan rasanya enak sekali makan tebu di kebon tebu.

Iklan

Tepung umbi suweg baik untuk terapi diet penderita diabetes

Hasil penelitian Ir Didah Nur Faridah, MSc, staf pengajar Departemen Ilmu dan Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), menunjukkan tepung umbi suweg baik untuk terapi diet penderita diabetes melitus atau kencing manis karena Indeks Glisemik (IG) rendah.

�Umbi suweg termasuk dalam bahan pangan yang memiliki nilai Indeks Glisemik rendah,� kata Faridah kepada pustakatani.org tanggal 10 Mei 2006. Berdasarkan penelitian Faridah, nilai IG tepung umbi suweg 42. Pangan dengan nilai IG di bawah 55 bisa menekan peningkatan kadar gula darah.

Umbi suweg yang nama ilmiahnya Amorphophallus campanulatus B, mengandung serat pangan dan protein yang cukup tinggi yaitu berturut-turut 13,71 persen dan 7,20 persen dengan kadar lemak yang rendah sebesar 0,28 persen.

Proses pembuatan tepung dari umbi suweg juga mudah. Umbi, yang sudah dicabut, dibersihkan dari kotoran dan tanah. Kemudian umbi yang sudah bersih dikupas dan dicuci dengan air bersih. Setelah cukup bersih, umbi diiris tipis-tipis dan dikeringkan di dalam oven dengan suhu 50 derajat celsius selama 18 jam. Akhirnya keripik umbi yang sudah kering diblender dan diayak untuk mendapatkan tepung halus ukuran 60 mesh.

Empat Mujarab Penakluk si Manis

Sendok dan garpu baru saja lepas dari genggaman tangan Aris Anwari. Direktur Kepatuhan Bank DKI itu usai menyantap makan siang. Ironisnya, ia malah lelah dan mengantuk. Keesokan harinya, saat bangun tidur, ia bergegas mengambil glukometer. Jarum runcing di ujung penlate (alat tusuk berbentuk pulpen, red) itu ditusukkan di jari tangan kanan. Beberapa saat darah segar mengucur.

Kedua matanya terbelalak melihat angka yang tertera di alat itu. Kadar gula darahnya 480 mg/dl. Itulah kadar gula tertinggi sejak ia mengidap diabetes mellitus. Ia hafal betul: mengantuk usai makan, kadar gula darah meningkat. Maklum, penyakit itu bersemayam di tubuhnya sejak 1985. Sejak itu pula ia terus-menerus mengkonsumsi obat antidiabetes. Frekuensinya 2 kali sehari, setelah makan siang dan sebelum tidur masing-masing 1 tablet.

Demi mengontrol gula darahnya, ia rutin memeriksakan diri ke dokter setiap bulan. Namun, jika gula darah melonjak, ia mondar-mandir ke dokter setiap pekan. Selain memberi obat antidiabetes, dokter pun selalu menyarankan untuk mentaati diet dan berolahraga teratur.

Selain mengkonsumsi obat dokter, Aris rajin melakukan treadmill selama 40 menit setiap hari. Namun, upayanya hanya sanggup menurunkan kadar gula darah hingga 300 mg/dl. Setahun silam, koleganya menawarkan virgin coconut oil (VCO) yang konon berkhasiat menurunkan kadar gula darah. Karena aman dikonsumsi dengan obat dokter, ia pun membeli VCO kapsul. Setiap hari, Aris mengkonsumsi 2 kali yaitu saat pagi dan selepas makan malam masing-masing 2 kapsul.

Setahun sudah Aris mengkonsumsi VCO, selama itu pula ia merasakan manfaat minyak kelapa murni itu. “Kadar gula darah menurun menjadi 140-200 mg/dl,” kata pensiunan Bank Indonesia itu. Memang hasil itu masih di atas kadar normal, 70-110 mg/dl. “Saya suka makanan manis dan berlemak, jadi dietnya terkadang sering dilanggar,” tutur pria kelahiran Kudus itu. Namun, “Badan saya lebih fit dan jarang mengantuk lagi,” ujarnya.
Glukosa terbuang

Menurut Prof Dr dr Susilo Wibowo SpAnd, spesialis andrologi dari Universitas Diponegoro, diabetes disebabkan kegagalan kelenjar pankreas memproduksi hormon insulin. Hormon itu berperan mengatur kadar gula darah. Jika kadar gula darah melebihi normal, menyebabkan ginjal ikut mengeluarkan gula bersamaan dengan urine.

Gula bersifat menarik cairan sehingga volume air kemih berlebihan. Akibatnya, penderita kerap berurine. Karena kehilangan banyak cairan, penderita pun gampang haus. Di lain pihak, glukosa yang terbuang percuma bersama urine menyebabkan tubuh kehilangan energi. Penderita menjadi gampang lelah dan mudah lapar.

Untuk pengobatan diabetes, para dokter menganjurkan 3 cara: pengaturan diet, penggunaan obat antidiabetes, dan olahraga. Menurut dr M Masjhoer MS Med SpFK, ahli farmakologi klinis di Universitas Diponegoro, obat antidiabetes yang biasa digunakan: golongan sulfonilurea, yang berperan merangsang produksi insulin; biguanida, menurunkan kadar glukosa pada hati; acarbose, menghambat penyerapan gula oleh saluran cerna; dan thiazolidinediones (TDZ), meningkatkan sensitivitas insulin dan mengurangi output glukosa di hati.

Bagaiman cara kerja VCO menuntaskan diabetes? Ahli andrologi RS Karyadi, Semarang itu menyebutkan asam laurat dan kaprilat pada minyak kelapa murni merangsang sekresi insulin di sel-sel langerhans pankreas.
Cegah komplikasi

Keampuhan VCO tak hanya sanggup mengontrol gula darah. Minyak perawan itu juga mampu mencegah timbulnya penyakit komplikasi diabetes. Tubuh yang mendapat asupan lemak jenuh rantai sedang-seperti VCO-mampu mencegah kerusakan hati akibat pemakaian alkohol dan stres oksidatif. Efek itu disebabkan kandungan asam linoleat VCO yang mencapai 1,3%.

Asam linoleat bekerja dengan cara menurunkan peroksidasi lemak sehingga tidak terjadi reactive oxygen species (ROS)-seperti superoksida-yang terlalu tinggi. Produksi superoksida berlebih akan bereaksi dengan nitrit oksida (NO) membentuk formasi baru yaitu peroksinitritoksidan yang berifat toksik. Jika hal itu terjadi, maka muncul penyakit jantung, stroke, dan rusaknya kekebalan tubuh pada penderita diabetes.

Selain Aris Anwari, yang juga memilih pengobatan tradisional untuk mengatasi diabetes adalah dr Pieter A W Pattinama, MPH. Namun, ia menggunakan jeli teripang. Derita luka menganga di kaki akibat diabetes yang diidap sejak 1972, perlahan menutup. Kadar gula darah pun menurun drastis. Semula 500 mg/dl, menurun hingga 160 mg/dl dalam 2 bulan.

Menurut Dr Ir M Ahkam Subroto, M App Sc, periset Bioteknologi LIPI, kandungan protein tinggi pada teripang yang mencapai 82%, baik diberikan kepada penderita diabetes. Protein tinggi berperan meregenerasi sel beta pankreas yang memproduksi insulin. Hasilnya, produksi insulin meningkat.

Menurut dr Oetjoeng Handajanto, di Bandung, selain diberikan untuk konsumsi oral, jeli teripang juga digunakan untuk mengobati luka gangren pada penderita diabetes. Berkat kandungan kolagen yang tinggi, jaringan sel mati pada luka teregenerasi sehingga mempercepat penyembuhan.
Buah merah

Herbal lain yang juga berpotensi mengobati diabetes adalah buah merah. Hasil riset yang dilakukan Dr Ir M Ahkam Subroto M App Sc, menunjukkan, buah merah berpotensi mengontrol gula darah. “Ada 2 strategi pengobatan diabetes, yaitu dipacu produksi insulinnya dan dihambat kerja enzim alfaglikosidase-nya,” papar Ahkam.

Cara kerja buah merah tidak merangsang produksi insulin, tetapi menghambat enzim alfa-glikosidase. Enzim itu berperan mendegradasi karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh menjadi glukosa. Bila enzim itu dihambat, proses konversi karbohidrat menjadi glukosa bisa ditekan.

Buah merah juga baik untuk meningkatkan efektivitas kerja insulin mengatur kadar gula darah. Ahkam menduga, cara kerja buah merah itu disebabkan asam-asam lemak yang terkandung dalam anggota famili Arecaceae itu. Konsumen harus memperhatikan dosis konsumsi. Untuk penderita diabetes, Ahkam menganjurkan untuk mengkonsumsi 2 kali saat pagi dan sore masing-masing 1 sendok makan.

Jika harus memilih antara buah merah dan VCO, Ahkam menyarankan penderita diabetes sebaiknya memilih VCO. Meski hanya bekerja dengan satu cara, yaitu merangsang produksi insulin, peran VCO lebih efektif. Sedangkan peran buah merah sebagai penghambat enzim alfa-glukosidase, kurang efektif karena enzim itu hanya bekerja jika konsumsi karbohidrat berlebih.

Tumbuhan obat asal Papua lainnya yang akhir-akhir ini populer adalah sarang semut. “Sarang semut belum terbukti empiris untuk diabetes,” kata Ahkam. Sarang semut tidak bisa mengontrol gula darah, tetapi bisa sebagai pelengkap pengobatan diabetes. Kandungan antioksidan pada sarang semut berperan meningkatkan kekebalan tubuh dan melancarkan pembuluh darah yang tersumbat tumpukan gula.

Dokter Masjhoer berpendapat, penderita diabetes sebaiknya menghindari mengkonsumsi sarang semut. Pasalnya, kadar karbohidrat sarang semut cukup tinggi yaitu 78,94 g. Namun, Ahkam menandaskan, karbohidrat sarang semut adalah karbohidrat kompleks sehingga tak sempat diolah tubuh menjadi glukosa. Jadi, tetap aman dikonsumsi oleh penderita diabetes.
Uji klinis

Meski VCO, buah merah, dan teripang yang secara empiris berkhasiat meredakan gula darah penderita diabetes, tak sertamerta bisa dianggap sebagai obat. “Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut menurut kaidah farmakologi,” kata dr Masjhoer. Khasiat suatu herbal tak bisa disimpulkan hanya dari kandungan gizi atau senyawa aktifnya. Apalagi kandungan senyawa atau gizi itu masih bersifat global.

Pada sarang semut misalnya, diketahui mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral yang umum terdapat pada tanaman obat lain. Kandungan flavonoid dan tanin pun belum diketahui secara spesifi k. Sebab, flavonoid dan tanin banyak jenisnya. Jadi, “Saya tidak bisa menjelaskan, senyawa mana yang berperan meredakan kadar gula darah dan bagaimana cara kerjanya,” kata Masjhoer.

Begitu pun betakaroten dan tokoferol yang terdapat pada buah merah. Menurut Dr Erni H P MSc, farmakolog di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, “Itu sejenis vitamin. Keduanya tak menyembuhkan,” katanya. Masjhoer berpendapat, untuk mengetahui cara kerja suatu herbal, perlu diuji klinis pada manusia. Caranya, membandingkan efek antara pasien yang mengkonsumsi herbal dan pasien yang mengkonsumsi obat antidiabetes sintesis kimia yang sudah mapan di pasaran. Jika hasil perbandingan itu sejalan, maka cara kerja herbal bisa diasosiasikan dengan cara kerja golongan obat sintesis kimia yang diperbandingkan.
Keamanan

Hal senada disampaikan dr H Arijanto Jonosewojo SpPD, ahli penyakit dalam RS Dr Soetomo, Surabaya. Meski penelitian VCO teruji klinis di luar negeri, tetap harus diujikan pada orang Indonesia. “Jenis penyakit dan pengobatan terkadang dipengaruhi faktor genetik,” ujar kepala Poliklinik Obat Tradisional RS Dr Soetomo itu. Herbal yang biasa dipakai orang Eropa, belum tentu cocok untuk orang Indonesia. “Jadi harus berhati-hati,” katanya.

Namun, usaha itu tampaknya dilakukan oleh beberapa dokter. Dokter Philemon Konoralma SpPD, misalnya. Dokter yang berpraktek di RS Mardi Rahayu, Kudus, Jawa Tengah, itu, tergerak untuk menguji khasiat VCO bagi kesehatan. Sebelum menguji pada para pasien, ia mencoba menguji khasiat VCO untuk dirinya sendiri dan ayah mertua yang menderita diabetes sejak lama.

Pada 24 September 2005, ayah mertua-Yosep Dara-mengkonsumsi VCO 3 kali sehari masing-masing 1 sendok makan. Sejak mengkonsumsi VCO, konsumsi glibenklamid dihentikan. Hasil pemeriksaan gula darah Yosep Dara menunjukkan: pada 24 September 2005 (137 mg/dl), 25 September 2005 (178 mg/dl), 28 September 2005 (199 mg/dl), 2 Oktober 2005 (159 mg/dl). Gula darah terkontrol pada angka 97 mg/dl, 200 mg/dl, 134 mg/dl, 105 mg/dl, 119 mg/dl, dan 135 mg/dl. Gula darah terkontrol juga dialami Philemon. Ia berkesimpulan, VCO dapat mengontrol gula darah.

Melihat kondisi dirinya dan sang ayah mertua, dr Philemon mulai meresepkan VCO kepada para pasien. Salah satunya Komariah yang menderita diabetes sejak 10 tahun silam. Saat diperiksa darah pada 10 November 2005, gula darah mencapai 185 mg/dl.

Seminggu mengkonsumsi VCO, ia kembali memeriksa kadar gula darah. Pada 17 November 2005, kadar gula darah turun menjadi 98 mg/dl, 22 November 2005 (112 mg/dl), dan 3 Februari 2006 (117 mg/dl). Bahkan, sakit ulu hati dan konstipasi yang kerap menyertai juga hilang.

Kalangan medis berharap, uji klinis juga dilakukan pada herbal-herbal lainnya. Menurut dr Arijanto, mengkonsumsi herbal yang terpenting tak hanya khasiat, tetapi juga keamanan. Oleh sebab itu, sebelum uji klinis, perlu dilakukan uji praklinis seperti uji toksisitas untuk mengetahui dosis aman, dosis efektif, dan efek terhadap organ tubuh lainnya.

Sayang, rangkaian uji klinis butuh waktu panjang. Meski begitu, dr Arijanto berpendapat, tidak keberatan jika masyarakat menggunakan herbal meski baru lolos uji praklinis. “Minimal diketahui faktor keamanan dan efek sampingnya,” katanya. Dr Willi Japaries MARS, pengobat herbal di Jakarta, menyarankan untuk menghentikan pengobatan jika terjadi perubahan pada fisik.

Si Pahit Kaya Khasiat

Jangan keburu curiga melihat penampilannya yang berbintil. Meski sekujur tubuh beralur tak beraturan dan pahit rasanya, anggota famili Cucurbitaceae itu bukan kasta paria alias terendah. Di balik sosoknya, si pahit terbukti secara ilmiah memiliki segudang manfaat.

Sejak zaman nenek moyang, pare dikenal ampuh menurunkan kadar gula darah, panas dalam, sariawan, demam, disentri, exim basah, batuk rejam, dan wasir. Ia biasa tersaji sebagai sayur penambah nafsu makan di Jawa Barat. Tak hanya di Indonesia, pare dikenal sebagai panasea di berbagai belahan bumi.

Di Filipina Mormodica charantia digunakan untuk mengobati penderita diabetes. Buah mudanya sering digunakan untuk mengobati luka di Turki. Sedangkan masyarakat India mengenalnya sebagai antimalaria, peluruh batu ginjal, psoriasis, rematik, dan skabies.

Klaim itu bukan tanpa bukti. Tengoklah penelitian B A S Reyes dari department of neurosurgery, Thomas Jefferson University, Amerika Serikat. Ia meminumkan jus buah pare pada tikus yang diinduksi alloxan penyebab diabetes sehingga kadar gula darahnya di atas 300 mg/dl. Dosisnya 20 ml/kg bobot tubuh. Selang 2 minggu, kadar gula darah tikus menurun signifikan dibanding kontrol.

Uji klinis terhadap 100 pasien penderita diabetes tipe II yang dilakukan departemen patologi, Sher-e-Bangla Medical College, Bangladesh, membuktikan karolla-sebutannya di Bangladesh-mampu menurunkan kadar gula darah secara signifikan pada 86 di antaranya.

Bagaimana mekanisme pare mengatasi diabetes? Kandungan steroid saponin yang dikenal sebagai karantin, peptida menyerupai insulin, dan alkaloid memegang peranan penting. Senyawa aktif itu diduga meningkatkan pembentukan sel-sel beta atau memulihkan sel-sel beta yang rusak sebagian. Ia juga diduga menstimulasi sekresi insulin pankreas. Tak hanya itu, M. charantia dapat menstimulasi penyimpanan glikogen oleh lever, dan memperbaiki pengambilan glukosa peripheral.
Uji toksisitas

Bitter melon-sebutannya di Amerika -juga dikenal moncer sebagai antibakteri, antivirus, anti-HIV, antiherpes, dan antipoliovirus. Hasil uji sitotoksik yang dilakukan oleh Martini dkk dari Universitas Diponegoro pada 2006, menunjukkan inkubasi ekstrak pare selama 24 jam memiliki efek antikanker terhadap sel hela, mieloma, dan sel B958. Itu berarti pare dapat dijadikan alternatif pengobatan kanker.

Pepare-sebutannya di Sumatera-kaya senyawa aktif dan antioksidan glikosida, saponin, alkaloid, triterpen, protein, asam lemak oleat, lineat, stearat, dan steroid. Buah mudanya kaya vitamin C, vitamin A, fosfor, dan zat besi. Tak heran ia mampu menangkal radikal bebas penyebab penyakit degeneratif.

Uji histologi yang dilakukan M Wien Winarno dan Dian Sundari dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan Indonesia, menyimpulkan daging buah pare tidak menunjukkan efek toksik terhadap kelenjar pankreas tikus putih.

Pemberian infus daging buah pare dosis 625 mg, 1.250 mg, 2.500 mg dan 5.000 mg per kilogram bobot tubuh, memperlihatkan jaringan eksokrin di sekitar pulau langerhans dan morfologi sel-sel dalam pulau langerhans tampak normal. Ia juga terbukti aman bagi organ hati dan ginjal. Ekstrak etanol famili Cucurbitaceae itu terbukti dapat menurunkan kadar hormon testosteron tikus jantan. Artinya, pare potensial sebagai kontrasepsi pria.

Sayang rasanya yang pahit membuat orang enggan mengkonsumsi pare. Padahal, menyiasatinya mudah saja. Cukup tambahkan daun jambu mete muda dan daun salam muda. ‘Dijamin, rasa pahit tak terasa,’ kata Dra Emma S Wirakusumah, ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor. Untuk menjaga kesehatan, Emma menyarankan konsumsi 100 gram per hari pare tak berbintil. Jika berbintil cukup 50-60 gram per hari. Itu karena poya-namanya di Sulawesi-berbintil memiliki kandungan karentin lebih tinggi. Kalau sudah begitu, siapa pun sayang si pahit.

Propolis Gagalkan Amputasi

Mengunjungi kerabat dekat pada pertengahan 2006 berakibat fatal bagi Yatinah. Dengan Kadar gula darah 423 mg/l kakinya tak merasakan kap mesin angkutan kota yang panas. Sesampai di rumah punggung kaki melepuh.

Luka melepuh itu kemudian membengkak berisi cairan. Karena bengkak kian membesar, perempuan berusia 61 tahun itu lantas dibawa ke rumahsakit di Bekasi. Dokter menyayat dan mengeluarkan cairan lalu menjahitnya. Luka sayatan itulah awal derita. Penyakit gula membuat luka tak kunjung menutup. Dalam 3 bulan, luka itu semakin lebar dan dalam.

Meski setiap hari dicuci dengan air hangat dan dikompres, luka tak juga mengecil. Di bulan kelima, lukanya malah mulai bernanah dan menguarkan bau tak sedap. Puncaknya pada awal 2007 luka tembus sampai telapak kaki dan menjadi ganren. Ia pun tak lagi mampu berdiri, apalagi berjalan. Mobilitas perempuan 9 anak itu bergantung pada kursi roda.

Yatinah kerap bolak-balik ke klinik dan rumahsakit untuk memeriksakan lukanya. Perempuan yang hidupnya hanya mengandalkan warung makanan kecil di depan rumah itu mesti merogoh kocek Rp250.000—Rp500.000 setiap periksa. Meski demikian, ganren terus menjalar sampai kulit di sekitarnya lebam menghitam. Maret 2007, lebam kehitaman itu menjalar mendekati pergelangan kaki. “Jika sudah sampai pergelangan kaki harus di amputasi,” kata Yatinah menirukan ucapan dokter. Ia pun hanya bisa pasrah sambil terus mengkonsumsi obat dari dokter.

Sembuh

Pada April 2007, seorang tetangga datang berkunjung dan menyarankan mengkonsumsi propolis. Yatinah menurut walau ragu. “Dokter di klinik dan rumahsakit dengan obat buatan pabrik terkenal saja tidak bisa menyembuhkan, apalagi suplemen biasa,” katanya. Selama 3 hari ia mengkonsumsi kapsul berisi 500 mg propolis pada pagi, siang, dan malam sebelum tidur. Menurut Yatinah, konsumsi awal rendah itu untuk memberi kesempatan tubuh beradaptasi.

Setelah 3 hari konsumsi, Yatinah merasakan tidak ada reaksi penolakan dari tubuh dan baunya berkurang. Saat itulah ia merasakan lukanya berdenyut, pertanda saraf perasa kembali aktif. Konsumsi pun ditingkatkan menjadi 3 kapsul setiap minum dengan frekuensi tetap. Dua minggu mengkonsumsi, nanah berhenti keluar. Bau tidak sedap pun tidak lagi tercium. Luka di telapak mulai mengering, sedangkan luka di punggung kaki menyempit. Lebam kehitaman di sekitar luka memudar.

Saat itu konsumsi propolis masih dibarengi obat kimia. Setelah obat dokter habis, Yatinah melanjutkan pengobatan hanya dengan propolis. Sebulan setelah konsumsi, giliran luka di punggung kaki mengering bersamaan menutupnya luka di telapak. Dua bulan mengkonsumsi, nenek 17 cucu itu bisa lepas dari kursi roda. Ia kembali bisa berjalan meski agak tertatih. Tak sampai 3 bulan mengkonsumsi, luka mengerikan itu sudah lenyap.

Bukan cuma mengkonsumsi propolis secara oral, Yatinah juga menggunakan salep untuk obat luar. Ia mengoleskan salep mengandung propolis dan lidah buaya pada ganren di kakinya. Sebelumnya luka dicuci 2—3 kali dengan cairan infus. Cairan infus dipilih lantaran steril. Setelah dibilas dengan cairan madu, barulah salep dioleskan. Cairan madu menggantikan alkohol yang meskipun ampuh mengeringkan luka tapi sakitnya tidak tertahankan.

Dalam dan luar

Menurut dr Hafuan Lutfie, dokter yang meresepkan propolis sejak 2002, propolis bisa bekerja di dalam dan di luar tubuh. Jika dikonsumsi oral, propolis memperbaiki fungsi kelenjar pankreas dalam memproduksi insulin sehingga menurunkan kadar glukosa darah. “Tapi dengan catatan kelenjar pankreas masih berfungsi dan belum rusak total,” katanya. Selain membantu penyembuhan, propolis juga memberi nutrisi sehingga sel bisa beregenerasi. Fungsi itulah yang tidak bisa digantikan obat-obatan medis.

Jika digunakan di luar tubuh, misalnya dioleskan sebagai salep, propolis bisa menyembuhkan ganren dan menghilangkan nanah serta bau. Pasalnya, lem lebah itu bersifat antibakteri. Menurut Hafuan, nanah dan bau adalah sisa pertempuran antara sel darah putih dan bakteri patogen dari udara. Jika bakteri sudah dikalahkan oleh propolis, tidak ada lagi nanah penyebab bau yang terbentuk. Sifat lain propolis dan produk perlebahan lain secara umum adalah membantu pengeringan sehingga tidak dihinggapi bakteri patogen.

Daya menyembuhkan propolis tergantung kepada kadar yang dikonsumsi. Semakin tinggi kadar, semakin ampuh daya menyembuhkannya. Namun, jika kadarnya terlalu tinggi—misal melebihi 60%—zat itu tidak bisa tercerna tubuh lantaran sifatnya yang liat dan keras. Sebagai produk nonkimiawi, propolis aman dikonsumsi dalam jangka panjang tanpa efek samping. Toh, Hafuan mengingatkan, selain asupan propolis, penderita diabetes tetap harus menjaga pola makan dan menghindari konsumsi tinggi glukosa serta karbohidrat.

Antibakteri

Propolis ampuh memberangus diabetes melitus dan efek sampingnya lantaran kandungan CAPE alias asam kafeat fenetil ester. Penelitian Fuliang dari Universitas Zhejiang, Hangzhou, China, dan Hepburn dari Universitas Rhodes, Grahamstown, Afrika Selatan, membuktikan ekstrak propolis menurunkan kadar glukosa, fruktosamin, malonaldehida, oksida nitrat, oksida nitrat sintetase, trigliserida, sampai kolesterol total dalam darah. Sementara hasil pengujian Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu (LPT) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, menemukan propolis kaya alkaloid, flavonoid, polifenol, saponin, tanin, dan kuersetin, yang semuanya bersifat antioksidan.

Menurut dr Robert Hatibie, dokter yang meresepkan propolis dan produk lebah, propolis menstimulasi sistem imun sehingga tubuh mampu melawan infeksi bakteri patogen. Menurut Prof Dr Ir Mappatoba Sila, peneliti lebah di Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, propolis dibentuk lebah untuk melindungi larva yang baru menetas dari infeksi cendawan dan bakteri. Jadi, “Secara natural memang sudah bersifat antibakteri,” katanya.

Pendapat Robert dan Mappatoba diperkuat Dr dr Eko Budi Koendhori MKes dari Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Penelitiannya pada 2007 membuktikan propolis mampu membunuh 26 isolat bakteri Staphylococcus aureus penyebab infeksi pada kulit dan saluran pernapasan serta Escherichia coli penginfeksi saluran pencernaan. Propolis dosis 10% dan 20% mampu membunuh seluruh sampel kedua jenis bakteri. Bagi Yatinah, apa pun penjelasannya, yang penting ia lolos dari amputasi dan bisa berjalan kembali. (A. Arie Raharjo/Peliput: Tri Susanti)

Propolis antibakteri dan menurunkan kadar gula darah

Jeanny Komar, peternak lebah yang memanen propolis

Yatinah, batal amputasi berkat propolis

1.Kuncinya pada Pelarut

Tangan kanan ir h bambang soekartiko membuka tutup botol yang juga berperan sebagai pipet. Lalu ia memencet kepala pipet. Dan tes! Setetes propolis jatuh ke dalam gelas berisi 150 ml air bening. Satu menit berselang larutan itu homogen – cokelat jernih – tanpa diaduk. Mantan direktur hubungan internasional dan investasi departemen kehutanan itu lantas meneguk larutan propolis. Mudah bukan?

Jika Bambang mengkonsumsi propolis dari hasil ternak lebah sendiri, proses lebih rumit. Propolis yang menempel di bingkai atau tutup sarang lebah Apis mellifera dikerok secara hati-hati. Lem lebah itu lalu diekstrak dengan etanol. ‘Etanol lazim dipakai karena kemampuan melarutkannya besar, mudah diperoleh, dan harganya murah,’ kata drs Moch Futuchul Arifin MSi Apt, dosen di Fakultas Farmasi, Universitas Pancasila, Jakarta. Baru 3 minggu kemudian ekstrak propolis berbentuk cairan kental dan lengket seperti lem diperoleh.

Ekstrak propolis lalu dilarutkan dengan pelarut campur – misalnya propilen glikol, gliserin, atau sorbitol – hingga siap konsumsi. Sayang, bila propolis itu dicampur air, warna air menjadi keruh seperti susu. ‘Air keruh diduga terjadi karena berada pada keadaan lewat jenuh sehingga ada sebagian propolis yang tidak larut dan mengendap. Akibatnya efektivitas propolis juga berkurang karena tidak bisa diserap tubuh,’ kata Arifin.

Itu diamini Dela Amalia Putri SFarm, Apt. Air keruh terjadi karena pelarut campur melewati batas jenuh. Contohnya sorbitol. Pada konsentrasi 50% sorbitol mampu melarutkan propolis. Ketika propolis berpelarut campur sorbitol ditambahkan air, konsentrasi sorbitol berkurang, jadi 10%. Akibatnya sorbitol tak mampu lagi melarutkan propolis dengan baik dan lem lebah itu pun mengendap.
Pelarut surfaktan

Pada kasus propolis yang Bambang minum di atas air berubah jadi cokelat jernih karena propolis larut di air dengan sempurna. Harap mafhum, Seoul Propolis Co., Ltd, sang produsen, yang bekerja sama dengan Food Bio-Engineering Team of Korea Atomic Energy Research Institute (KAERI) menggunakan metode WEEP (Water Ethanol Extract Propolis). Yaitu, metode khusus untuk menghasilkan ekstrak propolis yang bebas alkohol dan larut di air. Metode WEEP dapat mengekstrak flavonoid, terpenoid, pdisakarida, dan mineral secara efektif. WEEP merupakan metode terbaru yang diperkenalkan pada First World Propolis Science Forum yang berlangsung 25-26 Oktober 2007 di Daejeon, Korea.

Sementara Dela menduga propolis yang larut di air itu memakai pelarut campur dari jenis surfaktan. Surfaktan merupakan bahan yang menurunkan tegangan permukaan suatu cairan sehingga mempermudah penyebaran dan pemerataan larutan propolis.

‘Surfaktan memiliki daya larut baik meski dalam konsentrasi rendah. Pada konsentrasi 0,003% pun dapat melarutkan propolis,’ kata Dela. Pelarut sebagai kunci sukses mengekstraksi propolis. Jika pelarut sudah di tangan, maka niscaya lebih banyak orang mampu mengolah produk lebah itu. Saat ini di tanahair baru CV Cahya Sejahtera, Madiun, Jawa Timur, yang melakukan. (Rosy Nur Apriyanti/ Peliput: Nesia Artdiyasa)

Jadilah Propolis

1. Propolis hasil panen berupa padatan yang lengket.
2. Propolis itu dimasukkan dalam wadah dan ditambahkan etanol berkadar 70%. Perbandingannya 1 bagian propolis dan 3 bagian etanol. Goyang wadah setiap 5 menit setiap hari selama seminggu. Lalu saring dengan kertas saring.
3. Cairan hasil ekstraksi kemudian dituang pada nampan hingga setinggi 1 – 2 mm.
4. Masukkan nampan ke dalam ruangan berpendingin bersuhu maksimal 18°C. Ke dalam ruangan juga dialirkan uap panas. Dengan begitu air dan alkohol menguap tanpa merusak bahan aktif pada propolis. Selang 5 – 7 hari diperoleh ekstrak propolis berupa serbuk. Volume propolis pada tahap ini tinggal 40% dibanding awal.
5. Lalu 40% ekstrak propolis tersebut dilarutkan lagi ke dalam etanol. Kemudian larutan itu dituang pada nampan kembali. Masukkan kembali nampan tersebut dalam ruangan.
6. Selang1 – 2 minggu diperoleh serbuk propolis yang lebih halus. Volumenya hanya 20% dibanding awal. Ekstrak propolis pun siap diolah untuk konsumsi. Bila hendak diolah menjadi tablet, ekstrak propolis dicampur dengan gula dan tepung berdosis tertentu. Campuran itu kemudian dicetak menjadi bentuk tablet.
7. Di CV Cahya Sejahtera, ekstrak propolis dicampur dengan produk lebah lain, seperti royal jelly, bee pollen, dan madu. Campuran itu kemudian diuji agar komposisinya terstandar.
8. Setelah selesai, 650 ml campuran propolis dalam botol kaca siap didistribusikan.

2.Propolis

* Atasi 30 Penyakit
* Terbukti Secara Ilmiah

Peti mati dan lokasi pemakaman Tarsisius Sarbini sudah disiapkan. Kondisi pria 61 tahun itu memburuk akibat penyakit jantung koroner. Dokter menawarkan operasi by pass untuk mengatasi pencabut nyawa nomor wahid itu, tetapi keluarga menolak.

Bagi pasangan Tarsisius Sarbini dan Sri Subekti yang berprofesi guru, biaya operasi Rp150-juta itu sangat mahal. ‘Jika rumah saya jual juga tak menyelesaikan masalah. Saya tak mau menyengsarakan anak-istri,’ kata Sarbini yang merokok sejak 1970 dan menghabiskan 3 bungkus setiap hari mulai 1985 hingga 1995. Apalagi menurut dokter yang merawat peluang sembuh setelah operasi hanya 50%. Dalam kondisi pasrah itu sebuah peti mati pun disiapkan.

Tak ada pilihan lain bagi Sri Subekti selain harus membawa suami kembali ke rumah. Pada 5 September 2005 itu mereka meninggalkan rumahsakit di Bandung dan pulang ke Depok, Jawa Barat. Pria kelahiran Banyumas, Jawa Tengah, 14 Maret 1944 itu hanya terbaring. Seluruh aktivitasnya dilangsungkan di atas tempat tidur. Keluarga bagai menanti dentang lonceng kematian Sarbini.
Pertahanan kota

Jauh sebelum disarankan operasi, Sarbini berupaya keras mencari kesembuhan. Ia mengkonsumsi beragam herbal. Sekadar menyebut contoh ia rutin minum segelas rebusan daun keluwih Artocarpus altilis. Lama konsumsi 3 bulan, belum juga membawa perubahan. Ia juga disiplin menelan 9 jenis obat yang diresepkan dokter 3 kali sehari, tetapi 7 sumbatan di jantung belum juga teratasi.

Beberapa hari setelah tiba di rumah, H Anwar, orangtua dari murid yang ia didik, menyodorkan propolis. Sarbini pun patuh dan mengkonsumsi masing-masing 3 kapsul propolis 3 kali sehari. Tiga jenis obat dari dokter – sama dengan yang di konsumsi sebelumnya – ia telan 1 jam setelah menelan propolis. Sepekan berselang, pria 65 tahun itu merasakan khasiatnya. ‘Saya bisa berjalan 5 meter dan mengangkat gayung,’ kata Sarbini.

Itu kemajuan luar biasa. Sebelumnya, jangankan berjalan, bangkit dari tidur pun ia tak mampu. Dada yang semula sakit seperti ditusuk-tusuk pisau, intensitasnya kian berkurang. Keruan saja istri dan keluarganya senang bukan kepalang. Sebulan kemudian ia merasa sangat bugar. Saat ditemui Trubus di rumahnya pada 16 Desember 2009, Sarbini tampak gagah.

Aktivitasnya jalan sehat ketika pagi dan mengajar pada siang hingga sore hari. Singkat kata keluhan-keluhan yang dulu ia rasakan, hilang sama sekali. Kesembuhannya memang belum ia buktikan melalui pemeriksaan medis. Setelah kondisinya membaik, 4 tahun terakhir Sarbini belum memeriksakan jantung lantaran biaya relatif mahal, mencapai Rp25-juta.

Menurut dr Robert Hatibi di Jakarta sembuhnya Sarbini dari penyumbatan pembuluh darah jantung karena kemampuan propolis mengikat radikal bebas sehingga sumbatan terkikis. Sumbatan itu akibat nikotin dalam rokok yang menebalkan dinding pembuluh darah di jantung. Selain mengikis, ‘Propolis juga menjaga kemudian mempertahankan elastisitas dan daya kapilaritas aorta serta vena jantung,’ kata Hatibi.
Mumi

Propolis yang dikonsumsi Sarbini merupakan produk yang dihasilkan lebah. Spesies yang banyak diternakkan adalah Apis cerana dan Apis mellifera. Propolis berbeda dengan madu, produk utama lebah. Madu terdapat di dalam sarang heksagonal; propolis di luar sarang. Pada sarang buatan berupa kotak kayu, lebah-lebah pekerja meletakkan propolis di celah antarpapan, bingkai, atau tutup sarang.

Ir Hotnida CH Siregar MSi, ahli lebah dari Institut Pertanian Bogor mengatakan lebah pekerja mengolah propolis dari berbagai bahan seperti pucuk daun, getah tumbuhan, dan kulit beragam tumbuhan seperti akasia dan pinus. Menurut Dolok Tinanda Haposan Sihombing, ahli lebah dari Institut Pertanian Bogor, propolis merupakan bahan campuran kompleks terdiri atas malam, resin, balsam, minyak, dan polen.

Kata propolis berasal dari bahasa Yunani: pro berarti sebelum, polis bermakna kota. Kota dalam kehidupan serangga sosial itu adalah sarang. Secara harfiah propolis bermakna sebelum sampai kota. Bagi lebah propolis bermanfaat menambal celah-celah sarang, menutup lubang, dan mensterilkan sarang. ‘Kota’ lebah selalu dalam kondisi steril berkat propolis.

Hotnida mengatakan fungsi propolis lain adalah membungkus atau memumikan bangkai hama yang masuk ke sarang lebah. Dengan demikian propolis menghentikan pertumbuhan dan penyebaran bakteri, cendawan, dan virus sehingga penyakit tak tersebar dan sarang tetap steril. Hama yang dibungkus dengan propolis pun menjadi awet dan tak busuk lantaran propolis bersifat antibakteri. Metode itulah yang ditiru oleh nenek moyang bangsa Mesir untuk mengawetkan jenazah.

Menurut Ir Bambang Soekartiko, pemilik Bina Apiari, kualitas propolis tergantung dari sumber tanaman dan proses pembuatan. Tanaman sumber propolis di negara subtropis seperti Bulgaria, Korea, dan Rusia adalah pohon poplar Populus sp. Brasil mempunyai Bacharis dracunculifolia dan Dalbergia sp masing-masing sebagai sumber propolis hijau dan merah yang mempunyai bioflavonoid tinggi. Brasil sohor sebagai negara utama produsen propolis di dunia.

Produknya yang terkenal adalah propolis hijau bermutu tinggi karena kandungan bioflavonoid yang tinggi. Flavonoid merupakan komponen tumbuhan yang bersifat sebagai bahan-bahan anticendawan, antibakteri, antivirus, antioksidan, dan antiinflamasi. ‘Di Indonesia belum ada penelitian jenis tanaman sumber propolis yang kandungan bioflavonoid tinggi,’ kata Soekartiko (baca: Rahasia dalam Sebuah Sarang halaman 25).
Kotoran?

Warna propolis beragam, meski pada umumnya cokelat gelap. Namun, kadang-kadang ditemukan juga propolis berwarna hijau, merah, hitam, bahkan putih tergantung dari sumber resin. Produksi propolis relatif kecil, 20 gram setahun dari 200.000 lebah. Karena warnanya yang cenderung gelap itulah banyak peternak lebah menganggap propolis sebagai kotoran.

Apalagi para peternak itu juga belum mengetahui khasiat propolis. Oleh karena itu mereka justru membuang propolis dari sarang karena menganggap kotor. Padahal, untuk memanen propolis, relatif mudah. Peternak mengerok secara hati-hati dan mengekstraknya (baca: Kuncinya pada Pelarut halaman 20). Nah, karena jarang dilirik peternak, maka penggunaan propolis untuk kesehatan kalah populer ketimbang produk lebah lain seperti madu dan royal jeli. Peternak lebah di Amerika Serikat juga menganggap propolis sebagai bahan pengganggu. Propolis melekat di tangan, pakaian, dan sepatu ketika cuaca panas serta berubah keras dan berkerak ketika dingin.

Padahal, harga propolis jauh lebih mahal daripada madu. Saat ini di Indonesia harga propolis di tingkat peternak mencapai Rp700.000; madu, Rp35.000 per kg. Baru pada akhir 1990-an propolis dilirik sebagai bahan berkhasiat ketika Jepang meriset lem lebah untuk kesehatan. Takagi Y dari Sekolah Kesehatan Universitas Suzuka membuktikan keampuhan propolis meningkatkan sistem imunitas tubuh. Riset lain dari University of Japan membuktikan bahwa propolis mengurangi risiko sakit gigi. Dari pembuktian ilmiah itulah penggunaan propolis sohor di Jepang.

Menurut Hotnida penggunaan propolis di Indonesia juga terpengaruh hasil riset di Jepang. Masyarakat di Indonesia ramai menggunakan lem lebah alias propolis pada 2 tahun terakhir. Itu sejak kehadiran beberapa produsen dan distributor seperti PT Ratu Nusantara, CV Cahya Sejahtera, PT Melianature Indonesia, dan PT High Dessert Indonesia. Di pasaran kini terdapat beragam produk berbasis propolis seperti kapsul propolis murni, cairan propolis murni, dan campuran propolis dan madu.
Riset ilmiah

Seiring dengan tren pemanfaatan propolis, para periset menguji ilmiah lem lebah itu. Dra Mulyati Sarto MSi, peneliti di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, membuktikan bahwa propolis sangat aman dikonsumsi. Dalam uji praklinis, Mulyati membuktikan LD50 propolis mencapai lebih dari 10.000 mg. LD50 adalah lethal dosage alias dosis yang mematikan separuh hewan percobaan.

Jika dikonversi, dosis itu setara 7 ons sekali konsumsi untuk manusia berbobot 70 kg. Faktanya, dosis konsumsi propolis di masyarakat amat rendah, hanya 1 – 2 tetes dalam segelas air minum. Dosis penggunaan lain pun hanya 1 sendok makan dilarutkan dalam 50 ml air.

‘Tingkat toksisitas propolis sangat rendah, jika tak boleh dibilang tidak toksik,’ kata Mulyati. Bagaimana efek konsumsi dalam jangka panjang? Master Biologi alumnus Universitas Gadjah Mada itu juga menguji toksisitas subkronik. Hasilnya konsumsi propolis dalam jangka panjang tak menimbulkan kerusakan pada darah, organ hati, dan ginjal. Dua uji ilmiah itu – toksisitas akut dan toksisitas subkronik – membuktikan bahan suplemen purba itu sangat aman dikonsumsi.

Propolis itu pula yang dikonsumsi Evie Sri, kepala Sekolah Dasar Negeri Kertajaya 4 Surabaya, untuk mengatasi kanker payudara stadium IV. Evie akhirnya sembuh dari penyakit mematikan itu. Kesembuhannya selaras dengan riset Prof Dr Mustofa MKes, peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, yang meriset in vitro propolis sebagai antikanker. Sang guru besar menggunakan sel HeLa dan Siha – keduanya sel kanker serviks – serta T47D dan MCF7 (sel kanker payudara).

Selain itu ia juga menguji in vivo pada mencit yang diinduksi 20 mg dimethilbenz(a)anthracene (DMBA), senyawa karsinogenik pemicu sel kanker. Frekuensi pemberian 2 kali sepekan selama 5 minggu. Hasil riset menunjukkan propolis mempunyai efek sitotoksik pada sel kanker. Nilai IC50 pada uji in vitro mencapai 20 – 41 μg/ml. IC50 adalah inhibition consentration alias konsentrasi penghambatan propolis terhadap sel kanker.

Untuk menghambat separuh sel uji coba, hanya perlu 20 – 41 μg/ml. Angka itu setara 0,02 – 0,041 ppm. Bandingkan dengan tokoferol yang paling top sebagai antioksidan. Nilai IC50 tokoferol cuma 4 – 8 ppm. Artinya ntuk menghambat radikal bebas dengan propolis perlu lebih sedikit dosis ketimbang tokoferol. Dengan kata lain nilai antioksidan propolis jauh lebih besar daripada tokoferol.

Pada uji in vivo, propolis berefek antiproliferasi. Proliferasi adalah pertumbuhan sel kanker yang tak terkendali sehingga berhasil membentuk kelompok. Dari kelompok itu muncul sel yang lepas dari induknya dan hidup mandiri dengan ‘merantau’ ke jaringan lain. Antiproliferasi berarti propolis mampu menghambat pertumbuhan sel kanker.

‘Terjadi penurunan volume dan jumlah nodul kanker pada tikus yang diberi 0,3 ml dan 1,2 ml propolis,’ ujar dr Woro Rukmi Pratiwi MKes, SpPD, anggota tim riset. Dalam penelitian itu belum diketahui senyawa aktif dalam propolis yang bersifat antikanker. Namun, menurut dr Ivan Hoesada di Semarang, Jawa Tengah, senyawa yang bersifat antikanker adalah asam caffeat fenetil ester.
Terpadu

Banyak bukti empiris yang menunjukkan penderita-penderita penyakit maut sembuh setelah konsumsi propolis. ‘Penyakitnya berat yang dokter spesialis sudah pasrah,’ kata dr Ivan. Sekadar menyebut beberapa contoh adalah Siti Latifah yang mengidap stroke, Wiwik Sudarwati (gagal ginja), dan Rohaya (diabetes mellitus). Menurut dr Hafuan Lutfie MBA mekanisme kerja propolis sangat terpadu. Dalam menghadapi sel kanker, misalnya, propolis bersifat antiinflamasi alias antiperadangan dan anastesi atau mengurangi rasa sakit.

Yang lebih penting propolis menstimuli daya tahan tubuh. ‘Tubuh diberdayakan agar imunitas bekerja sehingga mampu memerangi penyakit,’ kata Lutfie, dokter alumnus Universitas Sriwjaya. Kemampuan propolis meningkatkan daya tahan tubuh disebut imunomodulator. Dr dr Eko Budi Koendhori MKes dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga membuktikan peningkatan kekebalan tubuh tikus yang diberi propolis. Biasanya infeksi Mycobacterium tuberculosis – bakteri penyebab tuberkulosis (TB) – menurunkan kekebalan tubuh dengan indikasi anjloknya interferon gamma dan meningkatkan interleukin 10 dan TGF. Interferon gamma adalah senyawa yang diproduksi oleh sel imun atau sel T yang mengaktifkan sel makrofag untuk membunuh kuman TB. Interleukin dan TGF merupakan senyawa penghambat interferon gamma.

Doktor ahli tuberkulosis itu membuktikan interferon gamma tikus yang diberi propolis cenderung meningkat hingga pekan ke-12. Sebaliknya interleukin 10 justru tak menunjukkan perbedaan bermakna. ‘Pemberian propolis pada mencit yang terinfeksi TB mampu mengurangi kerusakan pada paru-paru dengan cara meningkatkan sistem imun tubuh,’ kata dr Eko.

Dengan kelebihan itu pantas bila permintaan propolis cenderung meningkat. Cahya Yudi Widianto pada Mei 2009 baru memasarkan 300 botol masing-masing berisi 250 ml; kini mencapai 500 botol. Malaysia minta rutin 250 botol per bulan. Hendra Wijaya yang mengelola gerai Melianature Indonesia di Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mampu menjual 50 paket per hari. Sebuah paket terdiri atas 7 botol masing-masing bervolume 6 ml seharga Rp550.000 atau total omzet Rp2.750.000 sehari.

Marta Irawati dari Ratu Nusantara enggan membeberkan volume penjualan propolis. ‘Peningkatan volume penjualan mencapai 20% per tahun,’ kata Marta. Kondisi itulah yang mendorong Jeanny Komar, peternak lebah di Sukabumi, Jawa Barat, pada Januari 2010 mulai memanfaatkan propolis. Ia mengelola 1.000 koloni. Komoditas yang selama ini ia biarkan ternyata berkhasiat obat. ‘Obat dari yang menciptakan manusia jauh lebih bagus daripada obat bikinan manusia,’ kata dr Lutfie.

3.Nutrisi Propolis
Kandungan nutrisi propolis sangat lengkap. Prof Dr Mustofa MKes Apt, kepala Bagian Farmakologi dan Toksikologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada membuktikan propolis memiliki banyak khasiat karena kandungannya lebih dari 180 fitokimia. Beberapa di antaranya adalah flavonoid dan berbagai turunan asam orbanat, fitosterol, dan terpenoids. Zat-zat itu terbukti memiliki berbagai sifat antiinflamatori, antimikrobial, antihistamin, antimutagenik, dan antialergi. Flavonids bersifat antioksidan yang dapat mencegah infeksi serta turut menumbuhkan jaringan.