TEMULAWAK DAN SEMBUHNYA PENYAKIT HATI

Sejak zaman moyang kita dulu, temulawak sudah dikenal sebagai jamu ampuh melawan sebah perut alias penyakit kuning. Tapi adakah hubungan kausal antara kedua hal itu? Sampai kini masih berupa teka-teki. Tanpa berpretensi untuk menjawab pertanyaan itu, dr. Melly Budhiman, seorang psikiater. memaparkan pengalaman uniknya. Dinyatakan sembuh dari penyakit sirosis hati setelah rutin minum sari temulawak.

Beberapa bulan setelah mendapatkan brevet spesialis dalam bidang ilmu kesehatan jilwa (psikiatri) pada tahun 1969, saya beruntung mendapat tugas belajar selama 1 tahun di AS. Tanpa menyianyiakan kesempatan baik itu, saya segera mempersiapkan diri. Selain paspor dinas, diperlukan pula kartu bukti imunisasi berwarna kuning. Saat itu semua orang yang hendak ke luar negeri wajib mendapatkan imunisasi TCD dan penyakit cacar. Baca lebih lanjut

Iklan

Teh Hitam Penyembuh Lever

Ada kesamaan antara teh dan ecenggondok. Bukan pada sosoknya, tetapi keduanya didatangkan ke Indonesia sebagai tanaman hias. Yang pertama kali membawa biji teh ke nusantara adalah Dr Andreas Cleyer, ahli botani, pada 1684. Rekannya, dr Van Siebold-ahli bedah berkebangsaan Belanda-yang pernah belajar di Jepang, menuturkan teh sebagai minuman kesegaran. Nasib kedua tanaman itu memang berbeda. Ecenggondok didakwa sebagai gulma air; teh, minuman kesegaran dan obat.

Teh sebagai minuman, banyak yang mafhum. Teh sebagai obat? Boleh jadi sedikit yang tahu. Banyak bukti ilmiah yang mendukung bahwa daun Chamellia sinensis itu berkhasiat obat. Simak riset Ethan Basch, MD, peneliti dari Massachusetts College of Pharmacy, Amerika Serikat. Ethan tidak meneliti sembarang teh, tetapi hanya teh hitam dari pucuk tanaman anggota famili Theaceae itu. Riset pada 2006 itu membuktikan teh hitam menstimulasi sistem saraf pusat, memberikan efek menenangkan, meningkatkan detak jantung, dan diuretik.

Saraf pusat yang terangsang sistem pengendali irama dan gerak fisik menjadi terkendali. Dampaknya, pengaturan serapan nutrisi lebih baik. Daunnya kaya polifenol, tanin, mineral, vitamin, dan antioksidan. Yang disebut terakhir membantu kerja lever lebih efektif, sehingga tingkat metabolisme jadi lebih cepat. Akibatnya proses penyembuhan penyakit pun lebih optimal.

Itulah yang dialami Ekawati Faziah di Gemoh, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sejak 1990 ia menderita penyakit akibat infeksi virus itu. Saat itu, Eka sangat sibuk. Sebagai ibu 6 anak sekaligus guru Taman Kanak-kanak tenaganya tersita setiap hari. Perempuan kelahiran Banyumas 49 tahun silam itu juga mengelola toko busana.

Kesibukan itu kerap menyebabkan, makan tidak teratur dan kurang minum. Sementara aktivitas sehari-hari menuntut stamina prima. Ia kerap mengabaikan nyeri perut kanannya. Namun, lama-kelamaan nyeri itu menyiksa. ‘Rasanya sakit sekali, seperti ditusuk ribuan jarum,’ kata Eka melukiskan.
Sembuh & kambuh

Dokter yang ia datangi mendiagnosis gangguan empedu. ‘Yang sakit kan perut kanan bagian dalam, kemungkinan empedunya terganggu,’ ujar Eka mengutip perkataan dokter. Setelah rutin mengkonsumsi obat resep dokter, rasa nyeri kadang berkurang. Namun, kondisi tubuhnya tak membaik bahkan lebih parah. Tubuh terasa lesu. Selain itu, perut juga mual sehingga enggan makan. Meski begitu, ia tetap mengkonsumsi obat dari dokter selama dua tahun.

Sayangnya, tanda-tanda kesembuhan belum juga datang. Oleh karena itu ia menuruti saran keluarga untuk mengecek kesehatan ke sinshe. ‘Empedu tidak bermasalah, yang bermasalah justru lever,’ Eka mengulang perkataan sinshe di Temanggung. Sinshe meresepkan sebuah ramuan berbahan baku mahkota dewa, mimba, sambiloto, temulawak, dan pegagan. Semuanya direbus dalam air dan diminum 3 kali sehari.

Sebulan berselang, rasa sakit hilang. Tubuh pun bertenaga kembali. Oleh sinshe, Eka dinyatakan sembuh. Namun, 2 tahun setelah itu levernya kambuh lagi. Itu bermula pada 1994 pascamelahirkan anak ke-8. Anak ke-7 baru lahir setahun sebelumnya. Wajar jika kesibukannya bertambah. Ia kerap merasa lemas dan pusing. Ketika dibonceng anaknya ke toko, ia terjatuh dari motor ‘Badan lemas, pandangan juga berkunang-kunang,’ katanya. Hasil pemeriksaan dokter, tekanan darahnya hanya 70/80 mmHg; normal 120/80 mmHg. Kadar Hb dalam darah pun hanya 7 mg/dl, padahal normalnya 12 mg/dl.

Pemeriksaan itu juga menunjukkan lever Eka lagi-lagi bermasalah karena membengkak sekaligus komplikasi mag, jantung, dan ginjal. Kondisi itu memaksa wanita kelahiran 1958 itu beristirahat total selama 5 bulan, sampai-sampai toko busananya ditutup. Praktis selama kurun waktu itu Eka tidak beraktivitas. ‘Rasanya membosankan sekali, karena biasanya aktif,’ katanya. Meski kondisi kian parah tapi ia enggan mengkonsumsi obat dokter.

Putri sulungnya, Ryan Huria Latifah, menawarkan serbuk teh hitam. Setiap pagi, siang, dan malam, setengah sendok teh bubuk teh hitam diseduh dalam segelas air panas. Hari pertama mengkonsumsi teh hitam menimbulkan efek diare. Keringat keluar membanjiri tubuh. ‘Tapi terus saya minum karena menurut anak saya reaksi awalnya memang begitu,’ kata Eka. Setelah sepekan rutin mengkonsumsi teh hitam, tubuh kembali bertenaga. Mual dan pusing tidak lagi terasa. Hasil pemeriksaan dokter sebuah klinik menunjukkan, levernya kembali normal.

Beragam penyakit lain, seperti darah rendah dan mag juga sirna. Sebulan setelah mengkonsumsi teh herbal, Eka sanggup menempuh perjalanan Temanggung-Solo dengan mengendarai motor. ‘Tidak terasa lelah sama sekali,’ katanya. Itu perubahan besar baginya. Penampilannya pun lebih segar dengan bobot tubuh bertambah dari 44 kg menjadi 49 kg.
Katekin

Menurut Prof Dr Maximilian, M.D.,PhD, dokter sekaligus konsultan kesehatan dan accupressurist di Solo, mayoritas penderita kerusakan hati karena infeksi virus hepatitis kronik (B atau C) dan kebiasaan mengkonsumsi minuman beralkohol. Dapat pula akibat infeksi lain berupa obat, racun, dan autoimun. Menurut Hj Sarah Kristanti, herbalis di Bandung, Jawa Barat, sebagian pasien (10%) yang terinfeksi virus hepatitis B tidak dapat sembuh total. Jika penyakitnya menjadi kronik akan berlanjut menjadi sirosis.

Maximilian mengatakan, konsumsi teh hitam memperbaiki sel-sel tubuh sehingga metabolisme meningkat. Akibatnya, antibodi dalam tubuh naik, penyakit pun dapat dengan mudah diatasi. ‘Tetapi jangan sembarangan minum teh hitam,’ ujar alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada itu mengingatkan. Sebaiknya minumlah teh hitam yang sudah difermentasi. Proses fermentasi mampu mengaktifkan 450 senyawa alamiah yang ada dalam teh. ‘Semua senyawa itu berperan dalam meningkatkan daya tahan tubuh,’ katanya.

Salah satu senyawa dalam daun teh yang paling sohor adalah katekin. Katekin adalah antioksidan yang kuat, lebih kuat daripada vitamin E, vitamin C, dan betakaroten. Dalam teh terdapat beragam katekin: yaitu epigallo katekin-gallate (EGCC), epigallokatekin (EGC), epikatekin-gallate (ECG), gallokatekin, dan katekin. Selain katekin, teh juga mengandung flavonoid, fluoride, magnesium, vitamin E, dan vitamin K. Semua senyawa aktif itu mampu mencegah dan mengatasi berbagai macam penyakit bila teh dikonsumsi secara kontinu.

Pilihan Terbaik Atasi Hepatitis

Suatu hari di akhir 2003. Tubuh Mohammad Arief Hidayat lemas tak berdaya. Otot punggungnya pegal nyaris seperti kram. Perutnya mual dan nafsu makan pun hilang. Sampai-sampai pria kelahiran Jakarta itu tak kuat berjalan meski dalam rumah. Meta-sang bunda-membawa Arief ke rumahsakit Pondok Indah, Jakarta Selatan. Di sana dokter menvonis Arief terpapar hepatitis C karena nilai SGOT mencapai 90.

Berita itu bak petir menyambar di siang bolong bagi Arief. Ia tak menyangka dirinya disambangi virus mematikan itu. Padahal, pertama kali berobat Arief hanya didiagnosis mengidap maag. Obat-obatan, vitamin C, suplemen penambah darah, dan temulawak, jadi pilihan pengobatan. Namun, kesembuhan tak kunjung datang. “Malah mual dan kram punggung terus datang,” ujarnya.

Merasa tak puas, Arief pun menyambangi dokter spesialis penyakit dalam. Melihat tubuh Arief yang lemah dan menguning, dokter menyarankan melakukan cek darah. Hasilnya, SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase) mencapai 90 dan SGPT (Serum Glutamic Pyruviv Transaminase) berada di angka 170. Normalnya, SGOT di kisaran 40 dan SGPT stabil di angka 37.

Tes virus/antivirus pun positif. Tingginya nilai itu membuat dokter berkesimpulan, Arief terinfeksi hepatitis C. Dokter kemudian meresepkan Lactobion 6 tablet/hari seharga Rp3.200/butir. Sayang, keluhan sakit masih kerap mendatangi tubuh relawan HIV AIDS di ASA PKBI, Semarang itu. Bahkan bobot tubuh terus menyusut dari 58 kg menjadi 50 kg.

Alternatif lain, Arief mencoba ramuan tradisional dari Bima, NTB, seharga Rp185.000/kg. “Bentuknya seperti dodol berwarna hitam,” ujarnya. Satu sendok makan ramuan itu dilumatkan dalam ½ gelas air panas. Untuk menghilangkan rasa pahit ditambah madu. Pertama kali mencoba, perut Arief tidak kuat. Ia langsung muntah dan diare. Namun, tekad sembuh sudah bulat. Arief pun melanjutkan meminum ramuan itu selama 2 bulan. Sayang, tetap saja tak ada perubahan dan tubuh terus melemah.

Awal Oktober 2004, setelah membaca informasi mengenai buah merah ampuh atasi hepatitis, sang ibunda membeli 3 botol minyak buah merah ukuran 120 ml. Arief tak serta-merta mengkonsumsi buah merah itu. Ia berkonsultasi dengan dokter yang merawatnya. “Dokter malah menyarankan meminum buah merah,” ucapnya. Buntut coba-coba itu berbuah manis. Setelah mengkonsumsi 2 sendok per hari selama 2 bulan, kondisinya berangsur-angsur membaik. Nafsu makan bertambah. Itu terlihat dari bobot tubuh yang kembali normal, 58 kg. Efek lain, wajah pucat dan tirus berubah menjadi berseri-seri.
Antivirus

Kisah kesembuhan Arief itu keniscayaan. Dr M. Akham Subroto, peneliti di LIPI, Bogor, menjelaskan kandungan flavonoid yang tinggi pada buah merah memiliki efek menyembuhkan hepatitis C. Hal itu disebabkan flavonoid berfungsi sebagai antivirus. Mekanisme kerja flavonoid terungkap sebagai antipolimerasi, penghambatan siklus sel, dan pelindung struktur sel.

Flavonoid pun berkerja baik dengan vitamin C sehingga meningkatkan pertahanan tubuh. Sebagai antioksidan, flavonoid dapat menghalau radikal bebas dan membersihkan tubuh dari racun. Efek itu terasa pada Arief saat pertama kali mengkonsumsi buah merah. “Selama 3 hari saya diare,” ungkap Arief. Kemungkinan, itu reaksi pembersihan dan efek keseimbangan tubuh terhadap benda asing yang masuk.

Kandungan asam lemak berantai panjang, C22-C24, yang terkandung dalam tanaman asli Papua itu aktif menginaktifasi (melemahkan, red) dan meluruhkan membran lipida virus. Virus pun tidak diberi kesempatan untuk membangun struktur baru sehingga tidak bisa beregenerasi. Asam lemak seperti oleat, linoleat, dan linoletat bekerja memperbaiki fungsi hati. Karena diselimuti lemak, virus hepatitis sulit ditembus obat apa pun. Namun, asam lemak dapat menembus membran itu.

Hal serupa dijelaskan Dr Primal Sudjana, Sp PD – KPTI – spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Hepatitis disebabkan virus yang dalam jangka 6 bulan sejak terinfeksi menjadi akut. Bila dibiarkan hingga 6 bulan berikutnya menjadi kronis dan menyebabkan sirosis (pengerasan hati, red). “Kandungan vitamin E dan B1 dalam buah merah dapat mencegah peradangan dan pembengkakan sehingga sel-sel rusak dapat memperbaiki diri,” ujar Prof Dr Elin Yulinah Sukandar, doktor farmakologi alumnus ITB.

Penyembuhan lebih efektif bila ditunjang makanan bergizi dan istirahat cukup. Hal itu membuat perkembangan virus terhambat. “Secara alami virus bisa dilemahkan dengan memberikan keadaan yang ia tidak bisa tumbuh,” ujar dr Zen Djaja, pimpinan Balai Pengobatan Umum Yayasan Tri Dharma, Malang.

Menurut Dr Primal, sangat disarankan bila ada obat yang mampu menghambat proses replikasi virus. Selama ini dunia medis mengenal interferon yang dipakai untuk memperbaiki fungsi hati. Meski kenyataannya tingkat keberhasilan hanya 10-15%. Menurut Prof Dr Nurul Akbar, SpPD-KGEH, hasil di lapangan menunjukkan interferon sanggup mengurangi penderitaan akibat hepatitis sebanyak 40%, tapi kemampuannya membunuh virus masih kecil. Itu lantaran sel-sel normal ikut terbunuh, sehingga sulit buat regenerasi sel baru yang sehat.
Pilihan lain

Selain buah merah, masih ada pilihan lain: VCO, sarang semut, dan teripang. Masing-masing ketiganya mempunyai kandungan berbeda. Contohnya VCO. Menurut Akham, VCO kaya akan asam lemak rantai sedang sebanyak 7% sehingga ampuh memperbaiki fungsi hati.

Hal senada diungkap Bartolotta S. dari Universidad Tidak Buenos Udara, Ciudad Universitaria, di Argentina. Hasil penelitiannya menunjukkan asam laurat atau C12 paling efektif menghadang tahap pendewasaan siklus replikasi virus dan mengurangi hasil sekresi virus. Keampuhan lain, menghambat tekanan virus, tanpa mempengaruhi kelangsungan hidup sel normal. Sifat VCO yang larut dalam air dan langsung diserap tubuh membuat minyak perawan tidak berefek samping.

Lain lagi cara teripang memperbaiki fungsi hati. Teripang kaya akan grow factor sehingga dapat memperbaiki sel-sel rusak. Kandungan protein hingga 82% dan asam lemak essensial mujarab memperkuat sel hati untuk mengeluarkan antibodi. Karena itu juga gamat kerap disebut imunomodulator. Lantaran kandungan kolagen yang tinggi, gamat-sebutan lain-ampuh melakukan regenerasi sel secara singkat. Menurut dr Zen, gamat larut dalam air sehingga langsung terserap di hati tanpa mengalami detoksifi kasi. “Karena itu gamat tidak menimbulkan efek samping,” tambahnya.

Namun, hewan laut filum Echinodermata itu harus benar-benar terbebas dari racun. “Gamat yang dikonsumsi harus dimurnikan atau diekstrak,” kata Akham. Menurutnya gamat disinyalir dapat berfungsi sebagai antivirus.

Sarang semut pun dapat menjadi pilihan dalam mengatasi hepatitis. Itu lantaran senyawa flavonoid yang berguna sebagai antioksidan dan antivirus. Ia mampu meningkatkan kesegaran dan pemulihan stamina tubuh. Kandungan taninnya pun manjur memperbaiki fungsi hati. Sarang semut juga mengandung glikosida yang diduga berperan sebagai imunostimulan untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Virus yang masuk dapat ditangkis oleh antibodi yang dibentuk oleh sel hati.

Sifat sarang semut yang larut dalam air mempermudah penyerapan dalam hati. Karena itu sarang semut bekerja baik bila dikonsumsi berupa rebusan. “Tidak dalam bentuk kapsul,” ujar Akham.
Dosis

Bukti empiris menunjukkan keempat panesea itu dapat menghalau laju virus dan memperbaiki sel hati. Namun, harus diperhatikan dosisnya. Contohnya buah merah. Tingginya kandungan betakaroten dan alfatokoferol buah jika dikonsumsi berlebihan merusak kerja hati. “Kedua senyawa itu diproses hati. Jika dosisnya terlalu banyak, sedangkan hati sedang terinfeksi virus, malah membuat hati berkerja terlalu berat,” ujar Ahkam. Karena itu dosis yang dianjurkan 1 sendok makan/minggu.

Betakaroten dan alfatokoferol dapat dihilangkan dari komponen buah merah melalui pemurnian yang dilanjutkan dengan kolom. Artinya, buah merah yang telah dimurnikan dimasukkan dalam tabung. Di sanalah terjadi pemisahan senyawa yang dibutuhkan. “Bila itu telah dilakukan, niscaya buah merah sangat efektif mengatasi hepatitis,” ujar Akham.

Berbeda dengan buah merah. Minyak perawan itu dapat dikonsumsi setiap hari. Untuk menjaga kebugaran cukup dikonsumsi 1 sendok/hari. Sayang, tidak terdapatnya fl avonoid membuat VCO tak seaktif buah merah dalam menghadang virus. Pun gamat, dapat dikonsumsi setiap hari dengan dosis 1-2 sendok makan 3 kali sehari.

Hampir sama dengan buah merah, adanya kandungan tokoferol membuat sarang semut tak bisa dikonsumsi setiap hari. Sebaiknya hanya dikonsumsi seminggu sekali 1 sendok makan hasil ekstraksi. Artinya, 1 sendok makan sarang semut direbus dalam 2 gelas air selama 15 menit hingga tersisa 1 gelas. Secara empiris keempat panasea itu terbukti menghalau virus hepatitis. Pilihan kini di tangan Anda.